Masjid Raya Baiturrahman dibangun oleh Sultan Iskandar Muda tahun 1612 dan telah menjadi ikon Aceh. Masjin Baiturrahman juga menjadi obyek wisata religi di Aceh yang ramai dikunjungi karena kemegahan dan keindahannya. Bangunan utama pada Masjid ini berwarna putih dengan kubah hitam besar yang dikelilingi tujuh menara. Kesan megah Masjid ini semakin terasa dengan adanya kolam besar dan juga pancuran air pada bagian depan Masjid.
DENIES
-
1.Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. 2.Museum Aceh. 3.Museum tsunami. 4.Makam Tgk Syiah Kuala. 5.Makam Sultan Iskandar Muda. 6.Makam Laksa...
-
Wahab bin munabbih meriwayatkan bhw Nabi Luth as nama lengkapnya Luth bin Harun bin Tarikh bin Akhi Ibrahim.Menurut As-Suddi,Luth diutus ole...
-
Manusia banyak yg menganggap bhwasannya antara cinta dan islam terdapat sekat tebal dan permusuhan yg sengit.Karena itu,kita banyak menemuka...
-
1.ACEH Aceh adalah negeri muslim pertama dibumi nusantara. 2.eropa Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah menin...
-
Bahsa ureung atjeh 1.Peuhaba?/apa kabar?Haba geut/kabar baik. 2. So nam droen?/siapa nama anda? =>nam uloen Ali/nama saya Ali. 3.Pat ...
-
DENIESBLOGGER SUATU ketika, Ali radiyallahu'anhu berangkat ke masjid hendak menunaikan shalat fardhu. Di te...
-
Setiap hari Malaikat Izrael dan Nabi Idris beribadah bersama. Suatu kali, sekali lagi Nabi Idris mengajukan permintaan. “Bisakah engkau me...
-
Tiap thn 100 lebih warga israel yahudi masuk islam,masyaallah. setiap thn ratusan warga yahudi yg tinggal di israel mendatangi kantor depar...
-
MEMAHAMI KRISTEN JUSTRU SETELAH MASUK ISLAM. Troy tdk mudah prcaya berita dimedia barat tentang islam yg selalu digambarkan secara negatif,d...
Tampilkan postingan dengan label dunia dan islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia dan islam. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Februari 2017
Senin, 22 Agustus 2011
islam masa depan eropa
DENIESBLOGGER.
Apa fokus gerakan Islam dan proses perkembangannya? Apakah gerakan ini awal kelahiran Islam Prancis atau Islam Eropa? Dalam ringkasan wawancara ini, Muhammad Arkoun mengulas keadaan Islam di Prancis secara khusus dan Eropa secara Umum. Menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, dia mengidentifikasi persoalan utama terletak pada ketidaksiapan intelektual umat Islam dan kaum imigran ke Eropa.
Dia percaya bahwa mereka ini secara keliru telah menerangkan topik-topik keislaman dan menisbatkan berbagai hal fiktif dan palsu kepada Islam. Karenanya, gejala ini--menurutnya--menyebabkan Islam di Eropa lemah dalam mengambil peran yang berarti, kecuali jika ia bisa menciptakan perubahan besar dalam kancah ilmu pengetahuan. Tentunya, tugas ini menuntut; pertama, pembangunan sebuah landasan yang kuat dan; kedua, kebebasan penuh dalam lingkungan ilmu dan pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu Humaniora dan agama yang perlu ditelaah secara mendalam.
*****
Apakah Islam Prancis atau Islam Eropa itu ada? Apakah Islam ini di benua ini akan ditinggalkan ataukah justru punya suatu hubungan yang kuat dengan budaya Barat?
Pertanyaan ini bagi kebanyakan peneliti, wartawan dan bahkan dalam wacana-wacana global masih terus diperbincangkan. Di dunia yang kini kita hidup di dalamnya, kita tidak bisa mengklaim bahwa ada Islam Prancis atau Islam Eropa, sebab banyak juga orang-orang muslim yang hijrah ke Barat dan Eropa sebagai pekerja. Sebelumnya, mereka tidak punya kesempatan yang cukup bahkan untuk menikmati jenjang pendidikan tingkat menengah. Mereka juga tidak tahu bahasa Prancis atau Jerman. Mereka datang ke dataran bumi ini hanya untuk mencari nafkah hidup. Sampai sekarang pun kita masih hidup dalam keadaan seperti ini. Karena itulah banyak orang-orang Muslim--yakni mereka yang hidup di masyarakat-masyarakat Eropa--hanya menjadi fokus perhatian ulama Islam yang datang dari Aljazair, Tunisia, Maroko dan Mesir. Orang-orang Muslim imigran itu juga yang lalu mengusung pemikiran dan cita-cita keislaman ulama tersebut, dan ini kemudian menyebabkan berbagai persoalan di negeri ini, karena mereka tidak bisa memahami budaya kontemporer masyarakat--khususnya--Prancis.
Tentu Anda sudah tahu, Prancis punya sejarah dan pemikiran yang khas yang kita kenal dengan Laissez-faire. Sama sekali tidak akan diperoleh oleh orang-oang Muslim pemahaman yang benar terhadap sejarah dan muatan-muatannya di negeri ini, sebab perhatian mereka di negeri ini tertuju pada wacana-wacana Islam fundamental. Wacana-wacana Islam fundamental memperingatkan Muslimin akan pergaulan dengan orang-orang kafir. Ada banyak kelompok yang menyulpai wacana-wacana ini ke dalam pemikiran dan kebudayaan masyarakat Islam. Tentu saja dalam hal ini ada banyak ahli dan pakar. Akan tetapi mereka tak peduli dengan isu-isu keislaman, karena mereka sibuk dengan pekerjaan dan mata pencarian mereka sendiri. Mereka pakar-pakar di bidang Matematika, Fisika, Komputer, dll. Kalangan ini tidak bisa menangani isu-isu keislaman. Di sisi lain, kalangan ahli ini di masyarakat-masyarakat Barat terbilang sedikit. Dan mereka yang kenal dengan isu-isu, budaya dan pemikiran Islam lebih sedikit lagi. Sedangkan kebanyakan orang-orang Muslim justru punya kecenderungan fundamentalistik. Kelompok ini tidak akan bisa berpengaruh terhadap kondisi keilmuan Islam di negeri-negeri Barat. Saya sendiri melihat kenyataan ini dengan mata kepala. Ketika saya menyampaikan kuliah umum di Jerman dan Prancis, kelompok inilah yang tidak bisa menyerap uraian detail dari pemikiran-pemikiran Islam. Menurut saya, keadaan Islam di Eropa dan Barat akan berubah, walaupun perlu cukup waktu.
Selain kelompok yang Anda singgung tadi, ada banyak kelompok lain yang mendapatkan kewarganegaraan negara-negara Eropa seperti; Prancis. Dengan kewarganegaraan ini pula mereka menempati jabatan-jabatan tinggi instansi dan posisi-posisi politis di benua ini.
Ya, ada itu, tapi sedikit. Misalnya di parlemen, sampai sekarang tidak ada satu orang pun dari kelompok yang Anda sebutkan tadi. Tentu saja, di Belanda ada empat atau lima anggota yang muslim, dan di Inggris ada sejumlah anggota muslim. Tapi di Prancis, sampai sekarang ini, dengan berbagai alasan, itu tidak pernah terjadi. Ada banyak orang yang ditempatkan di kantor walikota dan jabatan-jabatan public lainnya, akan tetapi ketidakcocokan dengan lingkungan dan masyarakat Eropa telah menyebabkan semacam keengganan dan penghindaran orang-orang Muslim dari jabatan-jabatan tersebut. Begitu pula di pihak warga Eropa, lantaran tidak adanya silang pemahaman dan pergaualan dengan orang-orang Muslim, keterbelahan ini terus dominan. Memang perlu waktu yang panjang untuk mengubah keadaan ini. Dan menurut saya, pada 5-10 tahun yang akan datang, Islam akan berpengaruh di benua ini. Syaratnya, orang-orang Muslim harus belajar bahasa-bahasa Eropa di samping bahasa Arab, dan memahami ajaran-ajaran Islam secara mendalam. Kalau tidak begini, kita tidak bisa lagi bicara tentang Islam Jerman, Islam Prancis atau Islam Swedia.
Saya juga percaya bahwa proses ini berkaitan secara langsung dengan keadaan Negara-negara Islam, karena kondisi ilmu dan pengetahuan di negeri-negeri Islam--sejauh pengetahuan saya--sangatlah lemah. Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak bisa hanya percaya pada apa yang ada di dalam negeri-negeri mereka. Ketakpercayaan adalah factor utama dalam menentukan nasib kaum Muslimin di Eropa. Contohnya, negara-negara Islam mengirimkan ke Negara-negara Barat anak-anak bangsa yang tidak punya kesadaran adan pengetahuan akan nilai-nilai Islam, makanya mereka tidak bisa bekerja di bidang ini secara baik.
Dulu, Kementerian Luar Negeri Mesir pernah mengutus islamolog kontemporer, Syeikh Amin Al-Khuliy sebagai konsuler bidang kebudayaan ke Berlin dan Roma. Begitu juga Sayid Muhammad Khatami yang juga seorang pakar islam kontemporer di Jerman, aktif mengamati persoalan-persoalan budaya Islam bangsa Iran di Jerman.
Ya, mereka pemikir-pemikir islamolog. Sekarang juga banyak muslimin imigran masih memerlukan orang-orang seperti ini. Kaum imigran itu menuntut keterlibatan mereka dalam masyarakat dan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Akan tetapi, setelah sekolah-sekolah itu dibangun tuntas, siapa yang duduk di bangku-bangku kelasnya? Guru-guru di sekolah-sekolah itu juga tidak pandai mengajarkan pendidikan yang baik dan pengajaran ilmu tafsir dengan metodologi sejarah dan sasial, karena mereka sebelumnya belum pernah bejalar hal yang sama, karena itulah mereka punya cara pandang negatif dan sinis terhadap masyarakat, sebab ada beberapa pihak yang menuntut pembangunan sekolah-sekolah khusus, dan ini memerlukan izin dari pemerintah setempat. Pemerintah juga menghindari pembangunan tersebut, karena dengan adanya sekolah-sekolah ini, justru akan diajarkan kebodohan fundamental dan mengakar, dan ini merupakan ancaman dari orang-orang itu terhadap masyarakat dan agama.
Ini justru persoalan-persoalan yang sekarang sedang menimpa kita, tapi sayangnya negara, kelompok-kelompok Islam dan para ahli tidak berusaha menganalisa keadaan ini. Menurut pengakuan kolompok-kelompok Islam sendiri, di antara mereka ada yang punya kewarganegaraan Prancis, ada juga hidup di sana sebagai pendatang asing dan pekerja imigran.
Betul itu. Pendapatkan kewarganegaraan merupakan pekerjaan yang sangat susah. Banyak dari orang-orang itu tidak mendapatkan kewarganegaraan untuk keluar dari ‘umat’ dan ‘Darul Islam’. Akan tetapi, di Negara-negara Eropa, ada undang-undang yang tidak memberikan peluang kerja kepada selain warga negara. Oleh karena itu, mereka cenderung ke arah sana untuk mencari mata mencarian.
Memangnya banyak orang-orang seperti ini?
Dilaporkan ada sekitar 5 juta orang. Tapi saya kira jumlah mereka lebih banyak dari itu, sebab data-data tak resmi melaporkan hal yang lain.
Lalu, bertolak dari kenyataan adanya Islam di Prancis dan Eropa, apakah terjadi memisahan dalam masalah antara ibadah dan kewajiban-kewajiban atau antara pengalaman-pengalaman kejiwaan dan kondisi-kondisi jaman?
Pemisahan ini melazimkan kemajuan ilmi-ilmu pengetahuan dan pengakuan akan konsep-konsep baru. Masalahnya berkaitan erat dengan pemikiran dan budaya. Karena itulah Islam sama sekali tidak punya intervensi di dalamnya. Kenyataan ini juga sudah terjadi di dunia Kristen, yaitu dengan cara penentangan Monernitas terhadapnya dalam bentuknya sekarang ini--dimana masyarakat Eropa menetapkan pemisahan politik dari agama. Dan kalau saja kelas kapitalis tidak berhasil mengalahkan kelas Gereja, tentu sekarang ini nasib Kristen tidak beda dengan Islam. Namun, lantaran kelas kapitalis Eropa sangat kuat, pemisahan antara politik dan agama dilakukan ke atas masyarakat dengan kekuasaan dan kekerasan; bukan dengan jalur kehendak publik. Negara-negara Barat telah menjalani berbagai transformasi dalam pemikiran, metodologi dan analisis, namun kita sedikitpun tidak memanfaatkan transformasi-transformasi itu. Di Barat telah terjadi banyak revolusi pengetahuan dan epistemologis, hanya kita saja tidak menyadari substansinya, sebab metode-metode epistemologis analisis, kritis dan ilmiah dalam masyarakat Islam dan sistem-sistem pendidikan perguruan tingginya masih lemah. Banyak dari kalangan pakar sedang menerjemahkan transformasi-transformasi itu ke dalam bahasa Arab. Namun upaya ini tidaklah banyak dilakukan. Khususnya jika saja jika soroti tekanan-tekanan ideologis atas masyarakat dan kaum cendikiawan, upaya ini semestinya ditingkatkan.
Kenapa orang-orang Barat begitu fobia terhadap sebuah fenomena keislaman?
Karena mereka sama sekali tidak bisa mengerti; bagaimana semua syarat dan peluang kebebasan diberikan kepada seorang perempuan, tapi dia sendiri tidak menerimanya dan memilih hidup dengan cara yang mereka sebut dengan model Abad Pertengahan. Padahal, perempuan-perempuan muslimah itu perempuan-perempuan lain yang berjuang untuk kebebasan. Walaupun begitu, kelompok pejuang kebebasan ini ketika datang dan hadir di Barat, mereka tetap menggunakan hijab dalam berinteraksi dengan orang-orang kafir. Kontradiksi semacam ini tidak bisa dipahami oleh orang-orang Barat..
Untuk membahas persoalan hijab, pemerintah Prancis telah membentuk sebuah komisi yang juga melibatkan Anda sebagai anggota di dalamnya. Langkah-langkah apa yang sudah Anda ambil?
Betul. Komisi ini telah menuntaskan tugasnya dengan mengesahkan usulan-usulan di samping mempertimbangkan kondisi-kondisi dan aspek-aspek khas budaya Barat serta komitmen pada semua aspek ini. Sebab, syarat-syarat cultur Barat sendiri di negeri ini sudah tidak lagi efektif. Sementara itu, kebanyakan orang Muslim di negeri ini--seperti yang sudah saya katakan--adalah pekerja sipil. Maka itulah mereka dan anak-anak mereka seharusnya belajar bahasa Prancis dan pelajaran ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Nah, dengan kondisi-kondisi kultur mereka, tentu saja tugas kita sangatlah berat.
Apa tanggapan Anda terhadap stamtemen-statemen Syeikh Mazyani yang menekankan pemukulan atas istri?
Dalam dalam ceramahnya membawakan masalah-masalah yang tidak ada di negeri-negeri Islam sendiri. Orang-orang seperti ini di Barat--dengan menyalahgunakan hak kebebasan dan demokrasi--membuat isu-isu yang irasional. Maksud saya, mereka sedang berusaha melawan akal sehat.
Tepatnya isu-isu apa yang diangkat oleh Syeikh itu?
Dengan menukil ayat-ayat AL-Quran, dia menerangkan bahwa seorang lelaki berhak memukul istrinya yang tidak mentaatinya. Dia juga mengakui bahwa bagian fisik istri yang harus dipukul itu adalah tangan dan kaki, jadi suami tidak boleh memukul wajahnya, sebab kalau wajah istri juga dipukul, tentu akan wajahnya tampak jelek dan tidak cantik lagi. Sepertinya masalah-masalah ini tidak terduga oleh kita. Namun, masyarakat dan meda-media massa mendengar dan membicarakannya lalu menunjukkan penampilan yang buruk dari Islam.
Syeikh itu sudah diusir dari Prancis. Lalu kenapa dia kembali lagi?
Dalam sistem demokrasi, yang berkuasa dalah hokum. Semua Negara juga akan menghormati hokum dan undang-undang dasar.
Bukankah dia orang Prancis?
Iya, betul.
Menurut Anda, peran apa yang bisa diambil Islam di Eropa dewasa ini? Apakah Islam bisa berperan dalam kebersamaan Arab-Eropa? Dan secara umum, apakah peran yang akan direbut Islam di Eropa?
Islam bisa mengambil peran dalam memproduksi sejarah dan pemikiran, tapi dengan syarat; ada perubahan budaya dan pengetahuan di negara-negara Arab. Kita harus merumuskan sebuah basis umum dan kuat, begitu juga kebebasan atas semua ilmu, khususnya dalam lingkungan ilmu-ilmu humaniora. Perspektif ini akan mengarahkan kita kepada pemikiran yang mendalam. Tidak semestinya kita penganut strategi tradisionalis, sebab kita punya persepektif divinitas tentang masa lalu, oleh karena itulah kita bebankan ke atas diri kita dan anak-anak kita. Jadi, kita harus ubah kondisi ilmu dan pemikiran di negeri kita sendiri, barulah membaca masa lalu dan tradisi dalam perspektif baru dan dengan model yang ilmiah.
_________________
Apa fokus gerakan Islam dan proses perkembangannya? Apakah gerakan ini awal kelahiran Islam Prancis atau Islam Eropa? Dalam ringkasan wawancara ini, Muhammad Arkoun mengulas keadaan Islam di Prancis secara khusus dan Eropa secara Umum. Menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, dia mengidentifikasi persoalan utama terletak pada ketidaksiapan intelektual umat Islam dan kaum imigran ke Eropa.
Dia percaya bahwa mereka ini secara keliru telah menerangkan topik-topik keislaman dan menisbatkan berbagai hal fiktif dan palsu kepada Islam. Karenanya, gejala ini--menurutnya--menyebabkan Islam di Eropa lemah dalam mengambil peran yang berarti, kecuali jika ia bisa menciptakan perubahan besar dalam kancah ilmu pengetahuan. Tentunya, tugas ini menuntut; pertama, pembangunan sebuah landasan yang kuat dan; kedua, kebebasan penuh dalam lingkungan ilmu dan pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu Humaniora dan agama yang perlu ditelaah secara mendalam.
*****
Apakah Islam Prancis atau Islam Eropa itu ada? Apakah Islam ini di benua ini akan ditinggalkan ataukah justru punya suatu hubungan yang kuat dengan budaya Barat?
Pertanyaan ini bagi kebanyakan peneliti, wartawan dan bahkan dalam wacana-wacana global masih terus diperbincangkan. Di dunia yang kini kita hidup di dalamnya, kita tidak bisa mengklaim bahwa ada Islam Prancis atau Islam Eropa, sebab banyak juga orang-orang muslim yang hijrah ke Barat dan Eropa sebagai pekerja. Sebelumnya, mereka tidak punya kesempatan yang cukup bahkan untuk menikmati jenjang pendidikan tingkat menengah. Mereka juga tidak tahu bahasa Prancis atau Jerman. Mereka datang ke dataran bumi ini hanya untuk mencari nafkah hidup. Sampai sekarang pun kita masih hidup dalam keadaan seperti ini. Karena itulah banyak orang-orang Muslim--yakni mereka yang hidup di masyarakat-masyarakat Eropa--hanya menjadi fokus perhatian ulama Islam yang datang dari Aljazair, Tunisia, Maroko dan Mesir. Orang-orang Muslim imigran itu juga yang lalu mengusung pemikiran dan cita-cita keislaman ulama tersebut, dan ini kemudian menyebabkan berbagai persoalan di negeri ini, karena mereka tidak bisa memahami budaya kontemporer masyarakat--khususnya--Prancis.
Tentu Anda sudah tahu, Prancis punya sejarah dan pemikiran yang khas yang kita kenal dengan Laissez-faire. Sama sekali tidak akan diperoleh oleh orang-oang Muslim pemahaman yang benar terhadap sejarah dan muatan-muatannya di negeri ini, sebab perhatian mereka di negeri ini tertuju pada wacana-wacana Islam fundamental. Wacana-wacana Islam fundamental memperingatkan Muslimin akan pergaulan dengan orang-orang kafir. Ada banyak kelompok yang menyulpai wacana-wacana ini ke dalam pemikiran dan kebudayaan masyarakat Islam. Tentu saja dalam hal ini ada banyak ahli dan pakar. Akan tetapi mereka tak peduli dengan isu-isu keislaman, karena mereka sibuk dengan pekerjaan dan mata pencarian mereka sendiri. Mereka pakar-pakar di bidang Matematika, Fisika, Komputer, dll. Kalangan ini tidak bisa menangani isu-isu keislaman. Di sisi lain, kalangan ahli ini di masyarakat-masyarakat Barat terbilang sedikit. Dan mereka yang kenal dengan isu-isu, budaya dan pemikiran Islam lebih sedikit lagi. Sedangkan kebanyakan orang-orang Muslim justru punya kecenderungan fundamentalistik. Kelompok ini tidak akan bisa berpengaruh terhadap kondisi keilmuan Islam di negeri-negeri Barat. Saya sendiri melihat kenyataan ini dengan mata kepala. Ketika saya menyampaikan kuliah umum di Jerman dan Prancis, kelompok inilah yang tidak bisa menyerap uraian detail dari pemikiran-pemikiran Islam. Menurut saya, keadaan Islam di Eropa dan Barat akan berubah, walaupun perlu cukup waktu.
Selain kelompok yang Anda singgung tadi, ada banyak kelompok lain yang mendapatkan kewarganegaraan negara-negara Eropa seperti; Prancis. Dengan kewarganegaraan ini pula mereka menempati jabatan-jabatan tinggi instansi dan posisi-posisi politis di benua ini.
Ya, ada itu, tapi sedikit. Misalnya di parlemen, sampai sekarang tidak ada satu orang pun dari kelompok yang Anda sebutkan tadi. Tentu saja, di Belanda ada empat atau lima anggota yang muslim, dan di Inggris ada sejumlah anggota muslim. Tapi di Prancis, sampai sekarang ini, dengan berbagai alasan, itu tidak pernah terjadi. Ada banyak orang yang ditempatkan di kantor walikota dan jabatan-jabatan public lainnya, akan tetapi ketidakcocokan dengan lingkungan dan masyarakat Eropa telah menyebabkan semacam keengganan dan penghindaran orang-orang Muslim dari jabatan-jabatan tersebut. Begitu pula di pihak warga Eropa, lantaran tidak adanya silang pemahaman dan pergaualan dengan orang-orang Muslim, keterbelahan ini terus dominan. Memang perlu waktu yang panjang untuk mengubah keadaan ini. Dan menurut saya, pada 5-10 tahun yang akan datang, Islam akan berpengaruh di benua ini. Syaratnya, orang-orang Muslim harus belajar bahasa-bahasa Eropa di samping bahasa Arab, dan memahami ajaran-ajaran Islam secara mendalam. Kalau tidak begini, kita tidak bisa lagi bicara tentang Islam Jerman, Islam Prancis atau Islam Swedia.
Saya juga percaya bahwa proses ini berkaitan secara langsung dengan keadaan Negara-negara Islam, karena kondisi ilmu dan pengetahuan di negeri-negeri Islam--sejauh pengetahuan saya--sangatlah lemah. Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak bisa hanya percaya pada apa yang ada di dalam negeri-negeri mereka. Ketakpercayaan adalah factor utama dalam menentukan nasib kaum Muslimin di Eropa. Contohnya, negara-negara Islam mengirimkan ke Negara-negara Barat anak-anak bangsa yang tidak punya kesadaran adan pengetahuan akan nilai-nilai Islam, makanya mereka tidak bisa bekerja di bidang ini secara baik.
Dulu, Kementerian Luar Negeri Mesir pernah mengutus islamolog kontemporer, Syeikh Amin Al-Khuliy sebagai konsuler bidang kebudayaan ke Berlin dan Roma. Begitu juga Sayid Muhammad Khatami yang juga seorang pakar islam kontemporer di Jerman, aktif mengamati persoalan-persoalan budaya Islam bangsa Iran di Jerman.
Ya, mereka pemikir-pemikir islamolog. Sekarang juga banyak muslimin imigran masih memerlukan orang-orang seperti ini. Kaum imigran itu menuntut keterlibatan mereka dalam masyarakat dan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Akan tetapi, setelah sekolah-sekolah itu dibangun tuntas, siapa yang duduk di bangku-bangku kelasnya? Guru-guru di sekolah-sekolah itu juga tidak pandai mengajarkan pendidikan yang baik dan pengajaran ilmu tafsir dengan metodologi sejarah dan sasial, karena mereka sebelumnya belum pernah bejalar hal yang sama, karena itulah mereka punya cara pandang negatif dan sinis terhadap masyarakat, sebab ada beberapa pihak yang menuntut pembangunan sekolah-sekolah khusus, dan ini memerlukan izin dari pemerintah setempat. Pemerintah juga menghindari pembangunan tersebut, karena dengan adanya sekolah-sekolah ini, justru akan diajarkan kebodohan fundamental dan mengakar, dan ini merupakan ancaman dari orang-orang itu terhadap masyarakat dan agama.
Ini justru persoalan-persoalan yang sekarang sedang menimpa kita, tapi sayangnya negara, kelompok-kelompok Islam dan para ahli tidak berusaha menganalisa keadaan ini. Menurut pengakuan kolompok-kelompok Islam sendiri, di antara mereka ada yang punya kewarganegaraan Prancis, ada juga hidup di sana sebagai pendatang asing dan pekerja imigran.
Betul itu. Pendapatkan kewarganegaraan merupakan pekerjaan yang sangat susah. Banyak dari orang-orang itu tidak mendapatkan kewarganegaraan untuk keluar dari ‘umat’ dan ‘Darul Islam’. Akan tetapi, di Negara-negara Eropa, ada undang-undang yang tidak memberikan peluang kerja kepada selain warga negara. Oleh karena itu, mereka cenderung ke arah sana untuk mencari mata mencarian.
Memangnya banyak orang-orang seperti ini?
Dilaporkan ada sekitar 5 juta orang. Tapi saya kira jumlah mereka lebih banyak dari itu, sebab data-data tak resmi melaporkan hal yang lain.
Lalu, bertolak dari kenyataan adanya Islam di Prancis dan Eropa, apakah terjadi memisahan dalam masalah antara ibadah dan kewajiban-kewajiban atau antara pengalaman-pengalaman kejiwaan dan kondisi-kondisi jaman?
Pemisahan ini melazimkan kemajuan ilmi-ilmu pengetahuan dan pengakuan akan konsep-konsep baru. Masalahnya berkaitan erat dengan pemikiran dan budaya. Karena itulah Islam sama sekali tidak punya intervensi di dalamnya. Kenyataan ini juga sudah terjadi di dunia Kristen, yaitu dengan cara penentangan Monernitas terhadapnya dalam bentuknya sekarang ini--dimana masyarakat Eropa menetapkan pemisahan politik dari agama. Dan kalau saja kelas kapitalis tidak berhasil mengalahkan kelas Gereja, tentu sekarang ini nasib Kristen tidak beda dengan Islam. Namun, lantaran kelas kapitalis Eropa sangat kuat, pemisahan antara politik dan agama dilakukan ke atas masyarakat dengan kekuasaan dan kekerasan; bukan dengan jalur kehendak publik. Negara-negara Barat telah menjalani berbagai transformasi dalam pemikiran, metodologi dan analisis, namun kita sedikitpun tidak memanfaatkan transformasi-transformasi itu. Di Barat telah terjadi banyak revolusi pengetahuan dan epistemologis, hanya kita saja tidak menyadari substansinya, sebab metode-metode epistemologis analisis, kritis dan ilmiah dalam masyarakat Islam dan sistem-sistem pendidikan perguruan tingginya masih lemah. Banyak dari kalangan pakar sedang menerjemahkan transformasi-transformasi itu ke dalam bahasa Arab. Namun upaya ini tidaklah banyak dilakukan. Khususnya jika saja jika soroti tekanan-tekanan ideologis atas masyarakat dan kaum cendikiawan, upaya ini semestinya ditingkatkan.
Kenapa orang-orang Barat begitu fobia terhadap sebuah fenomena keislaman?
Karena mereka sama sekali tidak bisa mengerti; bagaimana semua syarat dan peluang kebebasan diberikan kepada seorang perempuan, tapi dia sendiri tidak menerimanya dan memilih hidup dengan cara yang mereka sebut dengan model Abad Pertengahan. Padahal, perempuan-perempuan muslimah itu perempuan-perempuan lain yang berjuang untuk kebebasan. Walaupun begitu, kelompok pejuang kebebasan ini ketika datang dan hadir di Barat, mereka tetap menggunakan hijab dalam berinteraksi dengan orang-orang kafir. Kontradiksi semacam ini tidak bisa dipahami oleh orang-orang Barat..
Untuk membahas persoalan hijab, pemerintah Prancis telah membentuk sebuah komisi yang juga melibatkan Anda sebagai anggota di dalamnya. Langkah-langkah apa yang sudah Anda ambil?
Betul. Komisi ini telah menuntaskan tugasnya dengan mengesahkan usulan-usulan di samping mempertimbangkan kondisi-kondisi dan aspek-aspek khas budaya Barat serta komitmen pada semua aspek ini. Sebab, syarat-syarat cultur Barat sendiri di negeri ini sudah tidak lagi efektif. Sementara itu, kebanyakan orang Muslim di negeri ini--seperti yang sudah saya katakan--adalah pekerja sipil. Maka itulah mereka dan anak-anak mereka seharusnya belajar bahasa Prancis dan pelajaran ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Nah, dengan kondisi-kondisi kultur mereka, tentu saja tugas kita sangatlah berat.
Apa tanggapan Anda terhadap stamtemen-statemen Syeikh Mazyani yang menekankan pemukulan atas istri?
Dalam dalam ceramahnya membawakan masalah-masalah yang tidak ada di negeri-negeri Islam sendiri. Orang-orang seperti ini di Barat--dengan menyalahgunakan hak kebebasan dan demokrasi--membuat isu-isu yang irasional. Maksud saya, mereka sedang berusaha melawan akal sehat.
Tepatnya isu-isu apa yang diangkat oleh Syeikh itu?
Dengan menukil ayat-ayat AL-Quran, dia menerangkan bahwa seorang lelaki berhak memukul istrinya yang tidak mentaatinya. Dia juga mengakui bahwa bagian fisik istri yang harus dipukul itu adalah tangan dan kaki, jadi suami tidak boleh memukul wajahnya, sebab kalau wajah istri juga dipukul, tentu akan wajahnya tampak jelek dan tidak cantik lagi. Sepertinya masalah-masalah ini tidak terduga oleh kita. Namun, masyarakat dan meda-media massa mendengar dan membicarakannya lalu menunjukkan penampilan yang buruk dari Islam.
Syeikh itu sudah diusir dari Prancis. Lalu kenapa dia kembali lagi?
Dalam sistem demokrasi, yang berkuasa dalah hokum. Semua Negara juga akan menghormati hokum dan undang-undang dasar.
Bukankah dia orang Prancis?
Iya, betul.
Menurut Anda, peran apa yang bisa diambil Islam di Eropa dewasa ini? Apakah Islam bisa berperan dalam kebersamaan Arab-Eropa? Dan secara umum, apakah peran yang akan direbut Islam di Eropa?
Islam bisa mengambil peran dalam memproduksi sejarah dan pemikiran, tapi dengan syarat; ada perubahan budaya dan pengetahuan di negara-negara Arab. Kita harus merumuskan sebuah basis umum dan kuat, begitu juga kebebasan atas semua ilmu, khususnya dalam lingkungan ilmu-ilmu humaniora. Perspektif ini akan mengarahkan kita kepada pemikiran yang mendalam. Tidak semestinya kita penganut strategi tradisionalis, sebab kita punya persepektif divinitas tentang masa lalu, oleh karena itulah kita bebankan ke atas diri kita dan anak-anak kita. Jadi, kita harus ubah kondisi ilmu dan pemikiran di negeri kita sendiri, barulah membaca masa lalu dan tradisi dalam perspektif baru dan dengan model yang ilmiah.
_________________
Minggu, 24 Januari 2010
DUNIA MUSLIM


1.ACEH
Aceh adalah negeri muslim pertama dibumi nusantara.
2.eropa
Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia. Peningkatan yang terus-menerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah di negara-negara Muslim, tapi juga jumlah orang-orang mualaf yang baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Al Qur'an, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Demikianlah, perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa "serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia", dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya. Proses kembali kepada nilai-nilai agama dan spiritual, yang dialami dunia sejak lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam.
Hal luar biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati ketika kita mempelajari perkembangan tentang kecenderungan ini, yang mulai kita ketahui melalui surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang umumnya dilaporkan sekedar sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu, sebenarnya adalah petunjuk sangat penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah mulai tersebar sangat pesat di seantero dunia. Di belahan dunia Islam lainnya, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar "kedudukan kaum Muslim di Eropa" dan "dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim." Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim. Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi. Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul "Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa" membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu saja.
Gereja Katolik dan Perkembangan Islam
Gereja Katolik Roma, yang berpusat di kota Vatican, adalah salah satu lembaga yang mengikuti fenomena tentang kecenderungan perpindahan agama. Salah satu pokok bahasan dalam pertemuan bulan Oktober 1999 muktamar gereja Eropa, yang dihadiri oleh hampir seluruh pendeta Katolik, adalah kedudukan Gereja di milenium baru. Tema utama konferensi tersebut adalah tentang pertumbuhan pesat agama Islam di Eropa. The National Catholic Reporter melaporkan sejumlah orang garis keras menyatakan bahwa satu-satunya cara mencegah kaum Muslim mendapatkan kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi terhadap Islam dan umat Islam; kalangan lain yang lebih objektif dan rasional menekankan kenyataan bahwa oleh karena kedua agama percaya pada satu Tuhan, sepatutnya tidak ada celah bagi perselisihan ataupun persengketaan di antara keduanya. Dalam satu sesi, Uskup Besar Karl Lehmann dari Jerman menegaskan bahwa terdapat lebih banyak kemajemukan internal dalam Islam daripada yang diketahui oleh banyak umat Nasrani, dan pernyataan-pernyataan radikal seputar Islam sesungguhnya tidak memiliki dasar. (1)
Mempertimbangkan kedudukan kaum Muslim di saat menjelaskan kedudukan Gereja di milenium baru sangatlah tepat, mengingat pendataan tahun 1999 oleh PBB menunjukkan bahwa antara tahun 1989 dan 1998, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat lebih dari 100 persen. Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 13 juta umat Muslim tinggal di Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di Balkan. Angka ini mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa. (2)
Kesadaran Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa
Penelitian terkait juga mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim di Eropa, terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di kalangan para mahasiswa. Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum Muslims terus melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan berpuasa. Kesadaran ini terlihat lebih menonjol di kalangan mahasiswa universitas.(3)
Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah Turki Aktüel menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.
Islam adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Eropa
Bersamaan dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa.
Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kini banyak pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan di banyak bidang lain, kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat dalam membangun.
Bersatu pada Pijakan Bersama: "Monoteisme"
Perkembangan Islam juga tercerminkan dalam perkembangan dialog antar-agama baru-baru ini. Dialog-dialog ini berawal dengan pernyataan bahwa tiga agama monoteisme (Islam, Yahudi, dan Nasrani) memiliki pijakan awal yang sama dan dapat bertemu pada satu titik yang sama. Dialog-dialog seperti ini telah sangat berhasil dan membuahkan kedekatan hubungan yang penting, khususnya antara umat Nasrani dan Muslim. Dalam Al Qur'an, Allah memberitahukan kepada kita bahwa kaum Muslim mengajak kaum Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) untuk bersatu pada satu pijakan yang disepakati bersama:
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Ali 'Imran, 3: 64)
Ketiga agama yang meyakini satu Tuhan tersebut memiliki keyakinan yang sama dan nilai-nilai moral yang sama. Percaya pada keberadaan dan keesaan Tuhan, malaikat, Nabi, Hari Akhir, Surga dan Neraka, adalah ajaran pokok keimanan mereka. Di samping itu, pengorbanan diri, kerendahan hati, cinta, berlapang dada, sikap menghormati, kasih sayang, kejujuran, menghindar dari berbuat zalim dan tidak adil, serta berperilaku mengikuti suara hati nurani semuanya adalah sifat-sifat akhak terpuji yang disepakati bersama. Jadi, karena ketiga agama ini berada pada pijakan yang sama, mereka wajib bekerja sama untuk menghapuskan permusuhan, peperangan, dan penderitaan yang diakibatkan oleh ideologi-ideologi antiagama. Ketika dilihat dari sudut pandang ini, dialog antar-agama memegang peran yang jauh lebih penting. Sejumlah seminar dan konferensi yang mempertemukan para wakil dari agama-agama ini, serta pesan perdamaian dan persaudaraan yang dihasilkannya, terus berlanjut secara berkala sejak pertengahan tahun 1990-an.
Kabar Gembira tentang Datangnya Zaman Keemasan
Dengan mempertimbangkan semua fakta yang ada, terungkap bahwa terdapat suatu pergerakan kuat menuju Islam di banyak negara, dan Islam semakin menjadi pokok bahasan terpenting bagi dunia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju zaman yang sama sekali baru. Yaitu sebuah zaman yang di dalamnya, insya Allah, Islam akan memperoleh kedudukan penting dan ajaran akhlak Al Qur'an akan tersebar luas. Penting untuk dipahami, perkembangan yang sangat penting ini telah dikabarkan dalam Al Qur'an 14 abad yang lalu:
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At Taubah, 9: 32-33)
Tersebarnya akhlak Islami adalah salah satu janji Allah kepada orang-orang yang beriman. Selain ayat-ayat ini, banyak hadits Nabi kita SAW menegaskan bahwa ajaran akhlak Al Qur'an akan meliputi dunia. Di masa-masa akhir menjelang berakhirnya dunia, umat manusia akan mengalami sebuah masa di mana kezaliman, ketidakadilan, kepalsuan, kecurangan, peperangan, permusuhan, persengketaan, dan kebobrokan akhlak merajalela. Kemudian akan datang Zaman Keemasan, di mana tuntunan akhlak ini mulai tersebar luas di kalangan manusia bagaikan naiknya gelombang air laut pasang dan pada akhirnya meliputi seluruh dunia. Sejumlah hadits ini, juga ulasan para ulama mengenai hadits tersebut, dipaparkan sebagaimana berikut:
Selama [masa] ini, umatku akan menjalani kehidupan yang berkecukupan dan terbebas dari rasa was-was yang mereka belum pernah mengalami hal seperti itu. [Tanah] akan mengeluarkan panennya dan tidak akan menahan apa pun dan kekayaan di masa itu akan berlimpah. (Sunan Ibnu Majah)
… Penghuni langit dan bumi akan ridha. Bumi akan mengeluarkan semua yang tumbuh, dan langit akan menumpahkan hujan dalam jumlah berlimpah. Disebabkan seluruh kebaikan yang akan Allah curahkan kepada penduduk bumi, orang-orang yang masih hidup berharap bahwa mereka yang telah meninggal dunia dapat hidup kembali. (Muhkhtasar Tazkirah Qurtubi, h. 437)
Bumi akan berubah seperti penampan perak yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan ... (Sunan Ibnu Majah)
Bumi akan diliputi oleh kesetaraan dan keadilan sebagaimana sebelumnya yang diliputi oleh penindasan dan kezaliman. (Abu Dawud)
Keadilan akan demikian jaya sampai-sampai semua harta yang dirampas akan dikembalikan kepada pemiliknya; lebih jauh, sesuatu yang menjadi milik orang lain, sekalipun bila terselip di antara gigi-geligi seseorang, akan dikembalikan kepada pemiliknya… Keamanan meliputi seluruh Bumi dan bahkan segelintir perempuan bisa menunaikan haji tanpa diantar laki-laki. (Ibn Hajar al Haitsami: Al Qawlul Mukhtasar fi `Alamatul Mahdi al Muntazar, h. 23)
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, Zaman Keemasan akan merupakan suatu masa di mana keadilan, kemakmuran, keberlimpahan, kesejahteraan, rasa aman, perdamaian, dan persaudaraan akan menguasai kehidupan umat manusia, dan merupakan suatu zaman di mana manusia merasakan cinta, pengorbanan diri, lapang dada, kasih sayang, dan kesetiaan. Dalam hadits-haditsnya, Nabi kita SAW mengatakan bahwa masa yang diberkahi ini akan terjadi melalui perantara Imam Mahdi, yang akan datang di Akhir Zaman untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan, ketidakadilan, dan kehancuran akhlak. Ia akan memusnahkan paham-paham yang tidak mengenal Tuhan dan menghentikan kezaliman yang merajalela. Selain itu, ia akan menegakkan agama seperti di masa Nabi kita SAW, menjadikan tuntunan akhlak Al Qur'an meliputi umat manusia, dan menegakkan perdamaian dan menebarkan kesejahteraan di seluruh dunia.
Kebangkitan Islam yang sedang dialami dunia saat ini, serta peran Turki di era baru merupakan tanda-tanda penting bahwa masa yang dikabarkan dalam Al Qur'an dan dalam hadits Nabi kita sangatlah dekat. Besar harapan kita bahwa Allah akan memperkenankan kita menyaksikan masa yang penuh berkah ini.
3. Kaum Muslim di Eropa perlu meng-Eropa-kan diri, agar Islam tidak dipandang sebagai ancaman. Stereotip Islam yang negatif dan ketegangan seputar Islam di Barat membawa dampak global.
Namun Indonesia dapat menjadi "model pluralitas" bagi Eropa. Demikian misi delegasi Interfaith Indonesia yang pekan lalu bertemu dengan Parlemen Eropa, kalangan Gereja, Universitas Katolik di Leuven, dan Interfaith di Luxemburg. 3. Kaum Muslim di Eropa perlu meng-Eropa-kan diri, agar Islam tidak dipandang sebagai ancaman. Stereotip Islam yang negatif dan ketegangan seputar Islam di Barat membawa dampak global.
Apa yang disebut "Eropanisasi Islam" ini dikemukakan Profesor Azyumardi Azra dengan menyarankan agar Eropa lebih akomodatif, dan migran Muslim Eropa lebih sensitif terhadap lingkungan sosialnya. Misalnya, dengan menanggalkan cadar.
Aboeprijadi Santoso menemui ketua delegasi tsb, Sekretaris Jendral Kementerian Agama Dr. Bahrul Hayat dan Pendeta Lydia Kambo Tandirerung.
Meski pun di Indonesia masih ramai soal Ahmadiyah, kontroversi tempat ibadah, isu N.I.I. (Negara Islam Indonesia) dan soal teror, namun delegasi Interfaith Indonesia yang melawat ke Belgia itu menawarkan Indonesia menjadi "model pluralitas" bagi Eropa. Misi ini bertolak dari anggapan - kami kutip- bahwa "Eropa itu monokultur", sedangkan Indonesia "sudah berabad-abad berpengalaman multikultur". Demikian Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat.
Juga kita ingin share bagaimana kebijakan pemerintah yang selama ini dijalankan di Indonesia. Kekuatan-kekuatan civil society apa yang mendukung terbentuknya harmonisasi di Indonesia.
Pendeta Toradja Lydia Tandirerung mengungkap, pihak-pihak di Belgia sebenarnya juga mempertanyakan hubungan antar agama di Indonesia. Namun, menurutnya, Eropa dapat belajar dari indigenousization, yaitu membumikan agama yang datang dari luar ke dalam kontek kearifan lokal, seperti di Indonesia. Untuk Eropa, Pendeta Lydia merujuk gagasan Azyumardi Azra, yaitu Eropanisasi Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Blog
MY PROFIL
deniesimages
lhoknga,aceh besar
SARAH,ACEH BESAR
SARAH,LEUPUNG
ACEH BESAR
KOPIAH ACEH
ini adalah kopiah ciri khas aceh..biasanya dipakai pd penganten pria
GAMBAR02
GAMBAR01
BURJ KHALIFAH,ABU DHABI
LHOKNGA
TAMAN TEPI LHOKNGA,ACEH BESAR
Label
- Ambil mamfaat (1)
- Belajar Aceh (1)
- Bencana (1)
- dunia dan islam (3)
- hiburan (2)
- Hiburan (1)
- Hidayah (2)
- Ilmiyah dan Amaliyah (5)
- Ilmu agama (1)
- kesenangan (2)
- Kisah (1)
- Liburan (1)
- nasehat (1)
- Pribadi (1)
- sejarah (1)
- tamasya (6)
- Umum (2)
- ഹിബുരന് (1)
