DENIES

Tampilkan postingan dengan label Ilmiyah dan Amaliyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmiyah dan Amaliyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2017

Tercabutnya Amanah dari hati manusia

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:

فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Jika amanah sudah disia-siakan maka tunggulah kedatangan hari Kiamat.” Maka seorang badui Arab bertanya kepada Rasulullah saw, “Bagaimanakah cara menyia-nyiakan amanah tersebut?” Beliau menjawab, “Jika suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saatnya (hari Kiamat tiba).”

Bangsa Arab yang dipilih Allah sebagai sahabat Rasulullah saw dikenal memiliki banyak kelebihan dan keistimewaan. Bahwa sejarah pernah mencatat fase kehidupan jahiliyah yang mereka lewati, namun di tengah masa jahiliyah itu mereka tetap memiliki banyak kemuliaan akhlak. Hanya karena belum mendapat sentuhan wahyu, maka kemuliaan akhlak itu seperti bongkahan emas yang tertimbun tanah. Mereka hobi berperang atas nama keberanian dan sikap ksatria. Mereka bunuh bayi wanitanya atas nama menolak kehinaan. Kegelapanlah yang membuat mereka terhalang dari kebaikan. Namun yang pasti, moral dasar mereka adalah kejujuran dan keteguhan memegang amanah.

Riwayat Ibnu Mas’ud menggambarkan bagaimana kemuliaan para sahabat bila dibanding dengan penduduk bumi lainnya. Beliau berkata: Sesungguhnya Allah melihat pada hati para hamba-Nya, maka Dia mendapati bahwa hati Muhammad adalah sebaik-baik hati manusia. Maka Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan membawa risalah. Setelah itu Allah melihat pada hati-hati hamba lainnya setelah hati Muhammad saw, maka Dia mendapati bahwa hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah jadikan mereka sebagai penolong nabi-Nya, yang berperang di atas agama-Nya. Maka apa yang dilihat sebagai kebaikan oleh kaum muslimin (para sahabat), maka di sisi Allah ia juga bernilai kebaikan. Dan apa yang dilihat oleh mereka sebagai keburukan, maka di sisi Allah pun bernilai keburukan. (HR. Ahmad : 7/453)

Kesanggupan memegang amanah merupakan akhlak dasar yang membuat mereka layak memikul beratnya beban risalah kenabian. Akhlak inilah yang membuat generasi sahabat layak memimpin dunia. Namun akhlak ini pula yang di akhir zaman kelak akan tercabut dari banyak manusia. Sahabat Hudzaifah ra berkata:
Rasulullah saw mengabarkan kepada kami dua perkara yang salah satunya telah aku buktikan, sedangkan yang satunya lagi masih aku tunggu kejadiannya. Pertama, Rasulullah saw mengabarkan bahwasanya sikap amanah itu terletak di hati manusia yang paling dalam. Kemudian mereka mengetahuinya melalui Al-Qur’an yang selanjutnya mereka juga mengetahuinya dari As-Sunnah. Kedua, Rasulullah saw juga mengabarkan bahwa sikap amanah akan dicabut ketika seseorang sedang tidur. Maka, pada saat itulah amanah dicabut dari hatinya hingga tinggallah bekasnya itu seperti noda yang berwarna. Kemudian orang tersebut tidur lagi, dan dicabutlah amanah dari dalam hatinya (sehingga bekasnya seperti bekas lecet di tangan yang melepuh karena mengangkat beban terlalu berat) atau seperti bekas bara yang terinjak oleh kakimu sehingga telapak kakimu melepuh sedangkan di dalam luka lepuhan tersebut tidak terdapat apa-apa. Seperti itulah manusia nanti, banyak orang telah membaiatnya namun setelah dia menjadi pemimpin dia tidak melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya itu dengan baik. Pada masa itu orang-orang menggembar-gemborkan bahwa di Bani Fulan terdapat orang yang dapat dipercaya, “Alangkah cerdiknya dia, alangkah lihainya dia, dan alangkah piawainya dia.” Padahal sedikitpun dalam hati orang yang dielu-elukannya itu tidak terdapat secercah sikap amanah dan keimanan. Sungguh telah datang kepadaku suatu masa di mana aku tidak peduli lagi kepada siapa di antara kalian aku akan melakukan transaksi jual-beli. Jika orang yang kuajak transaksi itu adalah seorang muslim maka keislaman akan mencegahnya (dari khianat), dan jika dia adalah orang Nasrani maka pejabat pemerintah mencegahnya (dari khianat). Adapun sekarang ini, aku tidak mau bertransaksi kecuali dengan si fulan dan si fulan.”

Riwayat sahabat Khuzaifah di atas menggambarkan salah satu pemandangan mengerikan di akhir zaman. Kerusakan dan ketidakteraturan sistem yang berlaku pada manusia telah membuat banyak orang tidak lagi mampu membedakan yang hak dan batil. Pada riwayat tersebut dilukiskan bahwa zaman akhir yang akan dilewati oleh manusia adalah zaman yang padanya muncul generasi yang secara dzahir terlihat alim dan shalih, berpegang teguh dengan janji dan amanat, namun sebenarnya mereka bukan termasuk ahlinya. Orang-orang awam menyangka bahwa guru mereka, syaikh mereka, kiayi dan ulama mereka adalah orang orang yang memiliki keimanan dan pendirian agama yang kuat, padahal dalam diri mereka tidak ada keimanan sedikitpun. Penampilan yang melambangkan keshalihan, tutur kata yang menyiratkan orang alim dan akhlak dzahir yang menggambarkan kesempurnaan iman telah membuat banyak tersihir bahwa fulan adalah jujur, amanat, alim, suci dll.

Inilah kondisi akhir zaman, manusia-manusia busuk yang berkhianat dianggap sebagai orang jujur dan mendapat kepercayaan, sementara hamba-hamba Allah yang jujur mendapatkan pengkhianatan. Ketika sahabat Khuzaifah pertama kali mendengar hadits tersebut dari nabi, beliau belum menemukan tanda-tanda yang menunjukkan akan datangnya nubuwat tersebut. Namun, di akhir hayatnya Khuzaifah menyaksikan sendiri berbagai musibah dan malapetaka yang menimpa kaum muslimin. Perpecahan dan pengelompokan umat Islam dalam sekte dan golongan telah membuat Khuzaifah tidak mau sembarangan dalam memberikan kepercayaan. Khuzaifah hanya menyebutkan bahwa ia hanya akan memberikan kepercayaannya kepada fulan dan fulan.

Dalam riwayat lain Nabi Saw juga berbicara tentang masa tersebut di mana seluruh ukuran telah rusak, beliau bersabda: “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun tipu daya, dimana pendusta dibenarkan, sedangkan orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang amanat dianggap pengkhianat, di masa itu ruwaibidhah berbicara “Beliau ditanya: “Apakah ruwaibidhah itu?” Beliau bersabda: “Orang bodoh yang berbicara tentang persoalan orang banyak.

Nampaknya gambaran kondisi negeri ini pasca pilpres akan semakin mendekatkan kita pada apa yang telah diingatkan oleh Rasulullah saw tentang tersia-siakannya amanat. Semoga kita diselamatkan dari kejahatan fitnah ini. Wallahu a’lam bish shawab.

Jumat, 12 Agustus 2011

Muslimah amerika

DENIESBLOGGER
Apa artinya menjadi seorang Muslimah di Amerika dewasa ini? Dalam “I Speak for Myself”, 40 Muslimah Amerika bertutur tentang pengalaman tumbuh besar di Amerika. Cerita pribadi mereka tentang perjuangan dan keberhasilan mengingatkan bahwa kita punya lebih banyak kesamaan dalam perjalanan kehidupan daripada yang sering kita bisa sadari.
"I Speak for Myself: American Women on Being Muslim", yang disunting oleh Maria M. Ebrahimji dan Zahra T. Suratwala, menyuguhi pembaca bagaimana rasanya tumbuh besar sebagai seorang Muslimah di Amerika, dengan berbagai pertimbangan emosi, simbolik dan sosial yang cukup ruwet.
Cerita-cerita di buku ini adalah manifestasi dari evolusi spiritual. Di permukaan, kita membaca tentang hubungan yang bermasalah dengan para suami, rekan kerja, orangtua dan teman, tapi, di tingkat yang lebih dalam, perjalanan itu adalah sebuah ekspresi semangat manusia.
Para perempuan ini berhasil mengatasi kesulitan dalam hidup mereka dan mengingatkan kita potensi dan keberanian yang ada pada masing-masing kita. Saat kita tumbuh berkembang dan dewasa, kita menjadi sadar akan keindahan dan kesucian hidup yang melampaui budaya.
Misalnya, salah satu Muslimah menulis tentang pengalaman mendapati suaranya lebih kuat dan bertenaga setelah mengalami perceraian dan pelecehan. Seorang Muslimah lainnya membincangkan signifikansi kultural dari perbincangan-perbincangannya ketika bekerja sebagai anggota dewan.
Kita juga membaca tentang bagaimana seorang perempuan dengan kocak dan cemas mengatasi kesenjangan generasi dan budaya yang ia alami dengan orangtuanya.
Bergulat dengan hasrat untuk menyesuaikan diri, perempuan lainnya menggambarkan bagaimana ia berjuang untuk menjelaskan dan merasionalisasi namanya, sementara yang lain bicara tentang sulitnya memutuskan apakah perlu mengenakan jilbab atau tidak. Setiap perempuan menggambarkan potensi kreatif terdalamnya sendiri, dan mengekspresikan hakikat tentang eksistensi manusia.
Disusun di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, “I Speak for Myself” dikontekstualisasikan dalam berbagai wacana identitas Amerika dan Muslim.
Himpunan cerita ini memperluas wacana-wacana ini hingga mencakup isu ras, kelas, agama, etnis, sejarah, politik, bahasa dan jender. Cerita-cerita tersebut mengesankan pemikiran masing-masing masyarakat tentang sejarah, Islam dan budaya tampak ruwet, sehingga pada akhirnya menantang anggapan bahwa para Muslimah tak bisa bersuara dan tak berdaya. Para penulis mengajari kita bahwa di luar budaya, ada ikatan yang lebih mendalam yang mempertalikan kita – hasrat kita akan perdamaian dan keadilan sosial.
“I Speak for Myself” menyediakan beragam contoh yang menjelaskan berbagai kemungkinan yang dihadapi manusia. Masing-masing perempuan menggambarkan identitas Amerika yang terganggu dengan ambivalensi dan kecemasan nyata tentang keterkaitan yang jelas di antara agama, politik dan ekspektasi sosial. Salah seorang perempuan bicara tentang seorang temannya pada masa kanak-kanak yang melihatnya sebagai orang Amerika dan bukan Muslim, dan bagaimana, pada saat itu, itu membuatnya bangga. Tapi kebingungan membuatnya berpikir sejenak dan menyadari bahwa ia tidak harus memilih antara menjadi Muslim dan menjadi orang Amerika. Ia bisa menjadi dua-duanya.
Muslimah lainnya menerangkan bagaimana pada masa mudanya ia berjuang untuk menjadi Muslim yang “benar” dan menyesuaikan diri dengan komunitas Muslim. Ia segera menyadari bahwa tidak hanya ada satu cara untuk menjadi Muslim dan bahwa Islam menyambut baik bermacam ekspresi keberagamaan.
Tapi tantangan ada tak hanya pada masa anak-anak dan remaja. Seorang Muslimah Afrika-Amerika menggambarkan bagaimana ia merasa menjadi bagian sekaligus terkucil dalam komunitas Muslim, serta hasratnya agar Muslim mengatasi masalah diskriminasi dalam sebagian komunitas Muslim. Seorang Muslimah Afrika-Amerika lainnya menggambarkan frustrasi yang ia alami ketika mencoba merangkul identitas Islam, feminis dan Afrika-Amerika yang “sejati”. Alih-alih, ia memutuskan untuk merangkul berbagai kepingan terpisah dan kontradiktif dari kepribadiannya, daripada mencoba menjadi seperti orang lain.
Perbincangan tentang keyakinan agama masing-masing perempuan mencerminkan bagaimana identitas mengalami pasang surut, disesuaikan dan dinegosiasikan. Masing-masing perempuan menjadi bagian dari negosiasi antara kekuatan dan ketidakberdayaan ini di mana ia melemahkan mitologi tentang Muslimah yang tertindas dan menciptakan sebuah model perlawanan.
Para perempuan yang berbagi cerita di buku ini adalah para insinyur, dokter, pengacara, tokoh masyarakat, pejuang keadilan sosial, mantan relawan Peace Corps dan Teach for America, seniman, profesor, mahasiswa, politisi, peraih penghargaan, bloger, jurnalis, aktivis lingkungan dan, terutama sekali, saudara-saudara kita dalam kemanusiaan. Melalui pengalaman masing-masing perempuan, para pembaca I Speak for Myself mendapatkan pemahaman yang lebih kuat tentang bagaimana rasanya tumbuh besar sebagai seorang Muslimah di Amerika.

Sabar dalam kesulitan

DENIESBLOGGER
Kesulitan atau penderitaan hidup tampaknya sudah menjadi 'sunatullah ' kehidupan ini. Tiada seorang pun di dunia ini yang tak pernah dihinggapi kesulitan atau penderitaan. Mustahil seseorang sunyi dari kesulitan itu. Yang berbeda adalah derajat kesulitan itu dan kesanggupan pribadi seseorang dalam menghadapinya.

Rasulullah saw pernah ditanya, "Siapakah yang paling berat ujiannya?," Nabi menjawab,"Para nabi, kemudian yang terbaik, lalu yang terbaik, seseorang mendapatkan (bala) ujian sesuai dengan kadar agamanya, bila agamanya kuat maka bertambah berat ujiannya, dan apabila agamanya dangkal, maka Allah mengujinya sesuai dengan kadar agamanya, seorang hamba tidak akan lepas dari ujian sampai ia berjalan di bumi dengan keadaan tidak berdosa."

Fakta telah menunjukkan bahwa manusia yang paling gampang shock, kaget, dan paling cepat goncang menghadapi kesulitan-kesulitan hidup adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, orang-orang yang ragu dan lemah imannya.

"Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengn berada di tepi, maka bila ditimpa kebaikan ia merasa tenang, dan jika ditimpa fitnah ia membalikkan wajahnya (murtad) ia merugi di dunia dan akirat, itulah kerugian yang nyata." (QS. Al Hajj: 11).

Demikian itu karena mereka tidak beriman terhadap takdir Allah yang membuatnya rela, tidak mengimani Tuhan yang membuat tenang. Tidak pula beriman kepada para nabi sehingga dapat mene mukan keteladanan pada kehidupannya yang serba sulit, tidak mempercayai kehidupan akhirat yang menghembuskan udara segarnya yang dapat melegakan nafas, mengusir kesedihan dan membangkitkan harapan.

Orang yang mudah goyah dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup ibarat perahu retak dan patah layarnya dihantam gelombang dan angin, sehingga gerakan ombak atau angin kecil saja, perahu itu akan goncang hebat dan miring, apalagi dikepung oleh gelombang dari perbagai penjuru tentu saja perahu itu akan segera tenggelam kedalam lautan yang dalam.

Kita sering temukan kasus bunuh diri justeru di lingkungan komunitas yang tidak peduli terhadap makna hidup beragama, dalam lingkungan masyarakat yang tidak lagi menegakkan norma-norma agama akan lebih banyak lagi ditemukan kasus-kasus yang mengerikan. Suasana akan menjadi kepedihan yang mematikan, duka cita yang mencemaskan dan kegelisahan yang mencekam dan kehidupan yang kehilangan makna. Sebab kesenangan yang ada hanyalah semu, penuh kepura-puraan dan kemunafikan.

Keteguhan Orang Beriman
Orang-orang beriman selalu sabar menghadapi bala' (malapetaka), paling teguh hatinya dan tegar menghadapi kesulitan hidup dan lapang dada. Dan tabah mengahadapi musibah, karena mereka tahu persis pendeknya umur untuk hidup di dunia dibandingkan keabadian di akhirat. Mereka tidak menginginkan surga sebelum surga yang sebenarnya.

"Katakanlah (wahai Muhammad) kesenangan dunia itu sebentar, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun." (QS. Anisa' 77).

"Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Ali 'Imran: 185)

Orang beriman mengetahui sunatullah (hukum alam) bahwa manusia itu akan diuji dengan nikmat kebebasan berkehendak dan menjadi kholifah di bumi sehingga mereka tidak menginginkan menjadi malaikat. Mereka tahu para nabi dan para rasul adalah manusia-manusia yang paling berat ujiannya dalam kehidupan dunia, paling sedikit menikmati kehidupan dunia, sehingga mereka tidak menginginkan lebih baik dari mereka dan dijadikannya sebagai teladan yang baik.
Al Quran mengatakan;

"Apakah kalian menyangka masuk surga, padahal kalian belum merasakan musibah yang telah menimpa orang-orang sebelum kalian, mereka telah ditimpa malapeteka dan kesengsaraan dan digoncangkan sampai rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya menyatakan, "Kapan pertolongan Allah tiba?" Katakanlah, "Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. Al Baqarah 214)

Nikmat dalam Suka dan Duka
Musibah yang menimpa dalam hidup ini bagi orang yang punya iman bukanlah pukulan ngawur, akan tetapi sesuai dengan takdir dan qodho' yang telah digariskan, hikmah azali, ketentuan ilahi sehingga mereka yakin, bahwa apa yang akan ditimpakan tidak akan luput dan apa yang diluputkannya tidak akan menimpanya.
"Musibah yang terjadi di bumi dan pada diri kalian adalah ditentukan sebelum kami lepaskan, sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah." (QS: Al Hadid 22).

Allah telah mentakdirkan dengan lembut dan halus, menguji dan meringankan. "Sesungguhnya Allah maha halus lembut terhadap sesuatu yang ia kehendaki, sesunggunya ia maha mengetahui dan bijaksana." (QS. Yusuf 100).

Di antara kelembutan Tuhan ialah bahwa musibah dan kesulitan adalah pelajaran yang berharga dan pengalaman yang bermanfaat bagi agama dan dunianya, mematangkan jiwanya, mengasah imannya dan menghilangkan karat hatinya.
Perumpamaan seorang mu'min yang ditimpa malapeteka yang berat seperti besi yang dimaksukan api hingga hilang kotorannya dan tinggal yang baik.

Itulah nikmat-nikmat yang terdapat pada setiap musibah yang menimpa manusia, sehingga seseorang mungkin perlu bersyukur kepada Allah disamping rela terhadap takdir dan sabar terhadap ujiannya.

Setiap musibah dunia itu kadang-kadang diganti dengan yang lebih baik, oleh karena itu sewaktu Yusuf as disuruh memilih antara dipenjara dan hina dengan wanita cantik yang menarik ia memilih penjara. "Wahai Tuhanku ! penjara lebih aku sukai ketimbang dari memenuhi ajakan mereka kepadaku." Itulah ratapan Yusuf pada Allah ketika menghadapi ujian berupa godaan wanita.

Di antara ajaran nabi kepada umatnya adalah do'a "Ya Allah janganlah engkau jadikan musibah pada agama kami dan jangan menjadikan dunia sebagai cita-cita kami yang terbesar dan akhir pengetahuan kami." (HR. Turmudzi).

Seorang mukmin selalu melihat nikmat yang telah diberikan Allah sebelum ia melihat nikmat yang akan diterimanya. Ia melihat petaka yang akan terjadi (di akhirat) disamping telah melihat petaka yang telah menimpa. Sikap ini menimbulkan kelapangan hati dan keridhoan. Bala (peteka) yang terjadi telah ia hindari dan kenikmatan yang telah diterima cukup banyak dan menetap.

Urwah ibnu Zubair seorang ahli fiqh dari kalangan tabi'in adalah teladan yang baik bagi orang mukmin yang sabar, ridho, menghargai nikmat Allah.

Diriwayatkan bahwa kakinya sakit kanker dan dokterpun memutuskan untuk diamputasi (dipotong) supaya tidak menjalar, lalu dokter memberinya obat bius supaya tidak terasa sakit. Namum ia berkata "Aku tidak yakin seorang mukmin mau minum obat yang menghilangkan kesabarannya sehingga tidak mengenali Tuhannya untuk itu potonglah kakiku." Merekapun memotong kakinya dan iapun diam tidak mengeluh.

Takdir telah menghendaki untuk menguji hambanya sesuai kadar imannya, di malam ia dipotong kakinya, seorang anak yang paling ia cintai jatuh dari lantai atas dan meninggal dunia. Orang-orangpun datang kepadanya dan menghiburnya, iapun berkata "Ya Allah, segala puji hanya untukmu, anak tujuh, dan kau ambil satu berarti masih kau sisakan enam. Sungguh bila Engkau mengambilnya, ya memang itu adalah pemberianmu dan jika engkau menguji dengan sakit, Engkau telah menyembuhkannya." 

Manisnya Pahala dan Pahitnya Kepedihan
Mengharap pahala dari Allah atas musibah yang menimpanya adalah kenikmatan ruhaniah lain yang dapat meringankan malapeteka. Pahala ini tercermin pada peleburan dosa-dosa betapun banyaknya, dan menambah kebaikan yang sangat dibutuhkannya. Dalam suatu hadist shahih disebutkan, "Kesusahan dan kegelisahan, kepayahan, sakit sampai duri yang melukai yang menimpa seorang muslim tidak lain kecuali Allah menghapus dosa-dosanya denganya."

Salah seorang shaleh, kakinya terluka namun ia tidak mengeluh kesakitan, bahkan tersenyum dan membaca inna lilahi wa inna ilahi raji'un lalu ditanya, "Kenapa tuan tidak mengeluh?" "Sesungguhnya manisnya pahala membuat aku lupa akan pahitnya rasa sakit," jawabnya menatap.
Itulah sesungguhnya sikap orang beriman ketika menghadapi bala', ujian dan musibah.

Hormati yang tua,sayangi yang muda

DENIESBLOGGER SUATU ketika, Ali radiyallahu'anhu berangkat ke masjid hendak menunaikan shalat fardhu. Di tengah perjalanan, ia terhadang oleh seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih. Kakek yang sudah renta itu berjalan perlahan tetapi mengambil posisi di tengah, bukan di tepi. Padahal jalan yang mereka lalui tidak terlalu lebar, sehingga jika sahabat Ali berusaha mendahului si kakek, ia khawatir akan menabrak, atau setidaknya menyerempet.
Yang membuat Ali bingung, karena ia saat itu sudah hampir terlambat mengikuti shalat berjamaah. Jika tidak berjalan cepat dengan mendahului si kakek, ia akan terlambat sampai di masjid. Tetapi karena si kakek tidak juga mengubah posisinya dan juga kecepatannya, akhirnya memaksa Ali untuk bersabar. Dugaannya pun benar, ketika sampai di masjid ia telah tertinggal shalat berjamaah.
Tapi pepatah yang mengatakan, "Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua," adalah pepatah bagus yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Apa yang dilakukan sahabat Ali mungkin tidak akan dilakukan oleh orang lain.
Betapa hormatnya ia kepada kakek yang berjalan di depannya. Walaupun ia tahu sang kakek tersebut berjalan lambat tidak untuk pergi ke masjid, tetap ia sangat menghormatinya. Beliau pun tidak berkeinginan mengganggu dengan mendahuluinya, khawatir sang kakek terkejut atau terdesak jalannya karenanya.
Bila terhadap orang yang tak dikenal saja begitu, semestinya kita lebih hormat lagi terhadap orangtua yang kita kenal, atau bahkan orangtua kita sendiri. Tetapi kenyatannya, menghormati orangtua sendiri sering kali tidak lebih mudah dari pada menghormati orangtua lain.
Justru terhadap orangtua sendiri, kakek dan nenek sendiri, yang sering bertemu, sering terjadi perbedaan pendapat, perbedaan persepsi, perbedaan kebiasaan yang mengakibatkan sering terjadi kesalahpahaman. Akhirnya percekcokan juga yang terjadi. Dan memang penyakit yang satu ini lebih mungkin menyerang mereka yang masih satu keturunan darah daging dibanding dengan orang lain.
Pepatah lain mengatakan, “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah.”Itulah pepatah yang menggambarkan betapa seorang anak seringkali tidak bisa membalas kasih ibunya yang diberikan ketika ia masih kecil. Tetapi justru dia membiarkan ibunya dalam kesendirian, kemelaratan atau kesengsaraan di hari tuanya.
Rasulullah saw menggambarkan hal ini dengan perbedaan yang cukup jauh. Setiap orangtua yang merawat dan memelihara anak-anaknya semenjak kecil, akan ikhlas karena memiliki pengharapan besar untuk masa depan anaknya. Tetapi anak yang memelihara orangtuanya yang sudah renta, seringkali kurang ikhlas karena berpengharapan agar orangtuanya tersebut cepat meninggal sehingga terbebaslah tugas pemeliharaannya.

Benar sekali bahwa merawat orangtua yang sudah renta itu teramat berat. Kalaupun seseorang bisa melaksanakan kewajiban ini, masih banyak yang sekadar merawat asal menunggu ajal menjemput. Ada harapan, toh merawat hanya sebentar, bukankah orangtua ini sudah dekat ajal?

Niat seperti ini belum bisa dikatakan ikhlas seratus persen. Masih ada yang perlu dibenahi. Untuk melatih meningkatkan keikhlasan, semestinya kita mencoba berpikir, bersiap-siap untuk melayani dan merawat orangtua kita walau ia akan hidup seratus tahun lagi, walau kita akan meninggal lebih dahulu dari pada mereka. Harapan bahwa perawatan yang kita lakukan akan segera berakhir, harus dihapus. Kita bersiap melakukan penghormatan, pelayanan, dan perawatan sampai kapanpun. Dan ini sungguh bukan pekerjaan ringan.

Tidak sedikit orangtua yang kondisinya sudah payah, sehingga berperilaku layaknya seorang bayi. Buang air kecil dan besar sembarangan, harus digendong ke mana ia mau pergi, kebiasaannya yang cerewet dan suka marah, atau yang tak pernah lagi ingat mana anaknya dan mana bukan, sudah makan atau belumkah ia, dan sebagainya. Sungguh tak ada orang yang akan kuat menghadapi ujian merawat orangtua seperti ini kecuali hanya mereka yang bisa ikhlas.

Orangtua yang sehatpun, tak ada yang tidak membawa masalah. Yang namanya perbedaan pendapat hampir selalu ada. Hal ini sangat wajar, mengingat perbedaan satu atau dua generasi ini sudah cukup memberikan perbedaan yang sangat jauh.

Masing-masing generasi pasti memiliki pola pandang yang berbeda. Begitu juga luas tidaknya wawasannya, cara berpikir hingga kebiasaan-kebiasaannya. Semua ini terbentuk dengan dipengaruhi kondisi lingkungan di masa hidupnya masing-masing. Mereka yang hidup di zaman perang dengan mereka yang hidup di zaman merdeka jelas memiliki pola pikir yang berbeda. Mereka yang hidup dalam kondisi melarat dan sengsara pun membentuk prinsip hidup berbeda dengan anaknya yang dibesarkan dalam kondisi berkecukupan. Kondisi pergaulan masyarakat, juga kebutuhan-kebutuhan, hingga gaya hidup yang berbeda di antara dua atau tiga generasi ini membentuk kepribadian yang berbeda pula.
Maka sangat wajar, jika perbedaan-perbedaan ini sering menjadi bibit perselisihan antara anak dan orangtua. Jika masing-masing ingin menang, maka kekacauanlah yang terjadi. Karena sudah lazim pula bahwa orangtua memiliki pola pemikiran kolot dan sulit berubah. Orang muda yang berkeinginan mengubah cara berpikir orangtuanya, hanya akan sia-sia, kalaupun bisa itupun hanya sedikit, hanya luar-luarnya saja.

Mereka yang sudah uzur, yang sudah terbentuk puluhan tahun cara berpikirnya, tidak akan bisa berubah hanya dengan beberapa tahun hidup di alamnya orang muda sekarang. Mereka rata-rata sudah tidak bisa lagi menerima informasi-informasi baru yang sudah sangat maju, berbeda, dan terasa aneh bagi mereka.

Tak ada jalan lain bagi kaum muda, kecuali mengalah kepada kaum tua. Mengalah bukan berarti harus mengikuti pendapat mereka. Tetapi yang muda harus bisa mengerti, dan memahami keadaan kaum tua. Jika ada perbedaan pendapat, hendaklah mengalah dalam perdebatan. Carilah cara untuk berbuat sesuai kehendak sendiri tanpa menyinggung pendapat orangtua.

Kadang kala hal ini memerlukan diplomasi, mengingat kaum tua seringkali memiliki sikap kolot dan tak mau kompromi, tak mau tahu pendapat kaum muda. Pendeknya, kaum muda harus bisa memberi pengertian sesuai dengan kemampuan berpikir kaum tua. Harus bisa berbicara sesuai dengan batas kemampuan bicara kaum tua, sebatas luasnya wawasan berpikir mereka.

Satu hal penting lagi yang harus dimengerti kaum muda adalah bahwa mereka tetap harus menghargai kaum tua sebagai manusia. Walaupun mereka bukan lagi manusia produktif, mereka tetap memiliki harga diri. Yang jika ini tidak dihargai sebagaimana mestinya, mereka akan tersinggung dan membawa dampak negatif.

Kaum tua yang tidak dihargai bisa berubah menjadi cerewet, pengomel, pengatur, atau bertingkah laku aneh-aneh meminta perhatian dari sekitarnya. Gejala ini persis seperti pada anak-anak yang juga tidak dihargai orangtuanya.

Menghargai harga diri kaum tua, seperti apakah itu? Yang utama adalah penghormatan. Ini adalah kebutuhan utama kaum tua. Setiap orangtua selalu merasa memiliki kelebihan dibanding anak-anaknya, mengingat dia lebih kenyang pengalaman baik suka maupun duka. Sebodoh-bodoh apapun orangtua dibanding anaknya, sudah pasti perasaan seperti ini ada pada mereka. Sudah pasti ada kelebihan yang tidak dimiliki sang anak.

 Maka wajiblah bagi kaum muda, untuk memberi penghormatan selayaknya bagi mereka. Ingatlah nasehat dalam surat Al Israa' 23 mengatakan:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
Artinya," ...Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Inilah standar penghormatan kaum muda kepada orangtua. Bukan main beratnya. Marilah kita instropeksi diri, berapa kali kita menyepelekan orangtua kita? Menghina pendapat-pendapatnya yang terasa konyol? Berapa kali pula kita berkata kasar dan keras hanya karena mereka sangat susah diberi pengertian? Atau kita merasa malu memperlihatkan mereka di muka umum karena keadaannya?

Ingatlah bahwa mereka tetap manusia yang memiliki harga diri. Hormatilah pendapat-pendapatnya sekonyol apapun pendapat mereka. Berilah mereka kesempatan untuk melakukan keinginan-keinginannya sejauh itu memungkinkan. Beri mereka kesempatan mewujudkan harapan-harapannya.

Akhirnya, untuk menjaga istiqamah kelurusan niat kita, teruslah mengingat janji-janji Allah akan keutamaan-keutamaan merawat orangtua seperti ini. Rasulullah saw ditanya tentang peran kedua orangtua. Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR Ibnu Majah).

Seseorang datang kepada Rasulullah dan mengemukakan keinginannya untuk berjihad. Beliau bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih memiliki kedua orangtua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabipun bersabda, "Untuk kepentingan merekalah kamu berjihad." (Muttafaq 'alaih).*/aql

Kamis, 14 Januari 2010

TENTANG AGAMA ISLAM

...CELANYA TAKABBUR DAN BANGGA AKAN DIRI SENDIRI...

Takabbur artinya sombong,congkak atau merasa dirinya lebih tinggi dr org laen,baik kedudukan,keturunan,kebagusan bentuk dan lain2 sebagainya...
Dari Al-Quran dptlah disebutkan ;"Aku akan memalingkan dr keterangan2Ku org2 yg menyombongkan dirinya dimuka bumi diluar kebenaran"...(Q.S.A'raf 146.)


"Sesungguhnya Allah itu tak suka kpd org2 yg berbuat kesombongan"...Q.S.Nahl 23.).


Rasulullah saw bersabda;"Tidak akan masuk ke dlm surga org yg didlm hatinya terdapat seberat biji sawi dr sifat kesombongan"...(H.R Muslim).

KEUTAMAAN ILMU PENGETAHUAN.
Kata Rasulullah :
''Keutamaan seorg alim diatas seorg 'abid{org beribadat} sebagaimana keutamaanku diatas serendah2 org golongan sahabat2ku..(.H.R Tirmidzi.)

CIUMAN

Ciuman ada 5 macam:
1.Ciuman rahmat yaitu mencium anak.
2.Ciuman penghormatan yaitu mencium kepala org tua.
3.Ciuman tuk mengagungkan yaitu mencium penguasa.
4.Ciuman ibadah yaitu mencium hajar aswad.
5.Ciuman syahwat yaitu mencium perempuan...

MABUK

Mabuk ada lima:
1.Mabuk minuman.
2.Mabuk masa muda.
3.Mabuk harta.
4.Mabuk cinta.
5.Mabuk kekuasaan...

TUJUH PERKARA YG TIDAK KEKAL
1.Bayang2 kesedihan.
2.Kekuasaan org awam.
3.Kebutuhan sehari2.
4.Cinta.
5.Pujian bohong.
6.Harta.
7.Warisan/kekuasaan.

SEMBILAN HAL YG SIA-SIA
1.Membawa timba ditengah gurun,
2.Menyalakan lampu dihadapan matahari,
3.Kunci utk rumah yg telah runtuh,
4.Mengecat uban,
5.Ketampanan didalam kesengsaraan,
6.Kecantikan dihadapan org buta,
7.Berbisik kepada org tuli,
8.Menegur org yg sedang menyukai sesuatu,
9.Berbuat kebaikan disertai kecurangan...

*HADITS*

"Barang siapa ridha dr pd Allah SWT dgn sedikit dr pd rizki niscaya ridha Allah Ta'ala dr pdnya dgn sedikit amal dr pd-Nya."(Hadits).

Kata Rasulullah SAW; "Wanita dgn tiada malu seperti makanan dgn tiada garam..."

KATA RASULULLAH;
"Dunia adalah perhiasan,dan sebaik2nya perhiasan adalah wanita shalehah.."(hadits).

"Hiduplah kamu didunia ini seakan2 perantauan atau musafir/pengembala."(kata Rasulullah).

UMAR R.A BERKATA;
"Barang siapa suka bersenda gurau,pasti akan dianggap ringan oleh org lain.."

SA'ID BIN 'ASH BERKATA KPD ANAKNYA.;
"Hai anakku,jgn engkau mengajak bersenda gurau org yg mulia,sbb ia akan mengkal melihat perbuatanmu itu dan jgn pula dgn org yg hina wataknya,sbb ia berani melawanmu.."*

My Blog

MY PROFIL

Foto saya
banda aceh, ACEH, Indonesia
AKU INGIN SELALU YG TERBAIK

deniesimages

deniesimages

lhoknga,aceh besar

lhoknga,aceh besar

BANDARA SIM

BANDARA SIM
BLANG BINTANG,ACEH BESAR

SARAH,ACEH BESAR

SARAH,ACEH BESAR

SARAH,LEUPUNG

SARAH,LEUPUNG
ACEH BESAR

KOPIAH ACEH

KOPIAH ACEH
ini adalah kopiah ciri khas aceh..biasanya dipakai pd penganten pria

GAMBAR02

GAMBAR02

GAMBAR01

GAMBAR01

BURJ KHALIFAH,ABU DHABI

BURJ KHALIFAH,ABU DHABI

LHOKNGA

LHOKNGA

TAMAN TEPI LHOKNGA,ACEH BESAR

TAMAN TEPI LHOKNGA,ACEH BESAR

Label

denies

Cari Blog Ini